Indonesia Punya 35 Jenis Kopi Bisa Bersaing Secara Global

Gambar Gravatar
Minggu, 10 Okt 2021, 8: 32 am-Ekonomi

ZONATIMES.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) mendata, setidaknya ada 35 jenis kopi indikasi geografis (IG) yang dimiliki Indonesia. Ke-35 jenis kopi tersebut terdiri dari 18 kopi arabika, 15 kopi robusta, dan 2 kopi liberika. 

Kekayaan sumber daya alam ini menjadi peluang kopi Indonesia bisa bersaing secara global. Peran generasi muda diperlukan untuk mendorong ke-35 jenis kopi asal Indonesia ini bisa dikenal di level mancanegara. 

Dalam webiar yang diselenggarakan Kementan, Sabtu (9/10/2021), Bambang selaku Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan mengatakan, dengan potensi kopi specialty atau kopi dengan grade tertinggi yang dimiliki Indonesia itu, peluangnya perlu diambil oleh anak muda.

Menurutnya, lewat jiwa entrepreneurship yang kreatif dari para generasi muda akan mampu mendorong memperluas pasar kopi Indonesia. Terutama di tingkat global sehingga berdampak pada kenaikan ekspor.

Bambang memastikan, Kementan sangat terbuka untuk membantu generasi muda untuk merambah bisnis di sektor pertanian, seperti tanaman kopi. Dukungan tersebut diberikan melalui pelatihan di tingkat daerah, hingga penyediaan kredit usaha rakyat (KUR) di sektor pertanian.

Diharapkan generasi muda terjun ke sektor pertanian dan mengoptimalkan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia. “Adanya kebijakan baru Kementan saat ini, memberikan peluang bagi anak-anak muda untuk memanfaatkan dana KUR untuk hilirisasi. Jadi jangan lagi jual dalam bentuk raw (barang mentah) dengan harga murah,” jelas Bambang.

Nilai Ekspor Kopi Indonesia 

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementan Dedi Junaedi menjelaskan, sepanjang Januari-Juni 2021 nilai ekspor kopi tercatat menurun 8,1 persen dibandingkan periode sama di tahun lalu, yakni menjadi sebesar 342,5 juta dollar AS dari sebelumnya mencapai 372,9 juta dollar AS.

Kementan berupaya mengoptimal potensi kopi di Indonesia dengan rehabilitasi dan peremajaan tanaman menerapkan sistem penanaman tumpangsari (intercropping), membuat agrowisata berbasis perkebunan kopi, dan membuat pembinaan IG kopi.

“Desa agrowisata ini sudah mulai dikembangkan seperti di Kopi Merapi, di mana peran pemerintah daerah menjadi penting dalam hal ini. Kami juga gandeng off taker untuk penyediaan kopi dan melatih pemuda di sana jadi barista,” jelasnya.

“Jadi Indonesia ini surganya kopi-kopi specialty ada kopi IG yang punya cita rasa khusus yang enggak ada di negara lain. Ini yang harus kita dorong untuk dipromosikan ke negara-negara lain,” pungkas Dedi.