Mengenal Guillain Barre Syndrome, Penyebab Lumpuh Usai Divaksin Covid-19

Gambar Gravatar
Senin, 03 Mei 2021, 9: 40 am-Health

ZONATIMES.COM – Seorang guru honorer SMAN 1 Cisolol, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat lumpuh dan mengalami efek samping yang tak biasa usai divaksin Covid-19 tahap dua. Susan mengalami kelumpuhan dan gangguan penglihatan.

Berdasarkan hasil investigasi  Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Susan mengidap guillain barre syndrome (GBS).

“Diagnosis dari DPJP RSHS: gullaian barre syndrome kata Kompas KII Prof HIndra Irawan Satari dilansir Detik.com

Hindra menerangkan kondisi GBS yang dialami guru Susan tidak terkait dengan vaksin Covid-19. Tidak cukup bukti untuk menunjukkan adanya keterkaitan KIPI dengan imunisasi yang diberikan.

Tentang Sindrom Guillain-Barre (GBS)

Dari laman CDCD terdapat penjelasan, sindrom Guillain-Barre (GBS) adalah kelainan langka di mana sistem kekebalan tubuh merusak sel saraf, menyebabkan kelemahan otot dan terkadang kelumpuhan.

Meskipun penyebabnya tidak sepenuhnya dipahami, sindrom ini sering kali terjadi setelah infeksi virus atau bakteri.

Kelemahan dan kesemutan biasanya merupakan gejala pertama. Sensasi ini bisa menyebar dengan cepat, akhirnya melumpuhkan seluruh tubuh.

Dalam bentuk yang paling parah, sindrom Guillain-Barre adalah keadaan darurat medis. Kebanyakan orang dengan kondisi tersebut harus dirawat di rumah sakit untuk menerima perawatan.

Belum ada obat yang diketahui untuk sindrom Guillain-Barre, tetapi beberapa perawatan dapat meredakan gejala dan mengurangi durasi penyakit.

Meskipun kebanyakan orang sembuh dari sindrom Guillain-Barre, angka kematiannya adalah 4-7 persen. Antara 60-80 persen pengidapnya mampu berjalan dalam enam bulan. Pasien mungkin mengalami efek yang menetap, seperti kelemahan, mati rasa atau kelelahan.

Sindrom ini memang pernah dikaitkan dengan vaksin di masa lalu. Terutama vaksin flu yang digunakan di AS selama wabah flu babi tahun 1976. Dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom Guillain-Barre.

Akan tetapi penelitian menemukan kecil kemungkinan bisa terkena kondisi ini setelah vaksinasi.

Untuk mempelajari apakah vaksin baru menyebabkan GBS, CDC biasanya akan membandingkan tingkat kejadian GBS pada populasi biasa dengan tingkat GBS yang diamati pada orang usai vaksinasi. Hal inii membantu untuk menentukan apakah suatu vaksin dapat menyebabkan lebih banyak kasus.