Vaksin Dosis Ketiga dan Penjelasan Ahli Soal Penurunan Antibodi Setelah Disuntik Vaksin Covid-19

Gambar Gravatar
Selasa, 03 Agu 2021, 12: 31 pm-Health

ZONATIMES.COM – Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) mendesak pemerintah agar vaksinasi dosis ketiga dilakukan.

Alasannya, efikasi vaksin Covid-19 Sinovac melemah setelah enam bulan. Ketua ITAGI Sri Rejeki sendiri yang menjelaskan bagaimana penurunan efikasi vaksin Covid-19 secara berangsur-angsur. 

Melansir CNN Indonesia, Sri menjelaskan bahwa sebelum mendapat vaksinasi GMT (Geometric Mean Titer) antibodi IgG penerima berada di angka 220.

Setelah 14 hari usai divaksin, antibodi akan naik menjadi 5.181. Tiga bulan turun jadi 1.606 dan enam bulan turun jadi 670. 

Penurunan juga didapati pada netralitas antibodi. Setelah 14 hari mendapat vaksin, netralisasi antibodi berada di angka 95 persen. Namun, tiga bulan kemudian turun menjadi 83 persen dan enam bulan kemudian menjadi 44 persen.

Akan tetapi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sampai saat ini masih belum merekomendasikan negara-negara melakukan program dosis ketiga tersebut.

Melansir Detik.com, Direktur program imunisasi WHO, Dr Kate O’Brien, mengakui topik dosis ketiga vaksin Covid-19 memang sedang ramai diperbincangkan. Hanya saja menurutnya masih belum cukup bukti data untuk kemudian mengeluarkan rekomendasi program. Terlebih mengingat suplai vaksin yang terbatas dan tak merata di dunia.

Maka dari itu, WHO belum merekomendasikan vaksin ketiga atau booster dengan alasan kebutuhan dosis vaksin belum merata. 

“Kami juga tahu sudah ada negara yang mulai merekomendasikan booster. Kami sangat meminta semua negara mengikuti bukti dan hanya menjalankan regimen booster berdasarkan bukti,” kata Kate dalam wawancara dan dikutip dari kanal Youtube resmi WHO pada Kamis (29/7/2021).

Bila ada negara yang memiliki suplai vaksin COVID-19 berlebih sampai bisa melakukan program booster, WHO mendorong agar negara tersebut mendonasikan sebagian suplainya untuk negara lain. 

Sebab, masih ada negara yang bahkan belum bisa memberikan vaksin untuk seluruh tenaga kesehatannya.