Negara Miskin Vs Kaya Rebutan, Distribusi Vaksin Tidak Merata

Gambar Gravatar
Sabtu, 27 Feb 2021, 8: 00 am-International

ZONATIMES.COM, – Pandemi Covid-19 menjangkit dunia sejak akhir 2019. Berdasarkan data Johns Hopkins, per 25 Februari 2021 Pukul 16.13 WIB, kasus positif Covid-19 mencapai 112.590.567 di seluruh dunia.

Hingga kini, Covid-19 yang merupakan penyakit yang disebabkan virus corona itu belum juga ada tanda-tanda akan berakhir. Langkah awal untuk dapat mengendalikan wabah Covid-19 adalah dengan vaksinasi. Vaksin Covid-19 diharapkan bisa menciptakan herd immunity.

Sayangnya, di tengah kondisi kritis seperti saat ini, negara-negara kaya memonopoli vaksin. Imbasnya, negara-negara lainnya kekurangan vaksin Covid-19. Negara-negara kaya yang memonopoli menyebabkan distribusi vaksin tidak merata.

Dilansir dari Kompas.com, organisasi non-pemerintah Amnesty International (AI) pada Rabu (9/12/2020) mengeluarkan laporan, bahwa negara-negara kaya telah mendapatkan cukup vaksin virus corona untuk melindungi tiga kali lipat populasi mereka hingga akhir tahun 2021.

Tindakan memborong vaksin ini merampas hak miliaran orang di negara miskin terancam tidak mendapatkan vaksin Covid-19. Hal itu bisa saja terjadi pada sekitar 67 negara miskin di seluruh dunia.

Sebagai contoh, Kenya, Myanmar, Nigeria, Pakistan dan Ukraina, hanya akan mampu memvaksinasi satu dari tiap sepuluh warganya.

Atas tindakan negara-negara kaya yang memborong vaksin te, Amnesty International dan organisasi lain seperti Frontline AIDS, Global Justice Now, dan Oxfam, mendesak pemerintah dan industri farmasi untuk mengambil tindakan guna memastikan kekayaan intelektual vaksin dapat dibagikan secara luas.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, negara-negara miskin sama sekali belum menerima vaksin.

(Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus)

Dalam konferensi pers di Jenewa pada (8/1), Tedros menyerukan tentang nasionalisme vaksin. Ia meminta negara-negara dan produsen agar tidak lagi membuat kesepakatan-kesepakatan bilateral. Ia juga meminta pemimpin negara yang telah memesan dosis berlebih segera menyerahkannya ke fasilitas yang memberikan vaksin, COVAX.

Tedros tidak menyebut detail nama-nama negara kaya yang dimaksud memborong vaksin. Namun, Uni Eropa mengatakan telah mencapai kesepakatan dengan Pfizer dan BioNTech untuk 300 juta dosis tambahan vaksin Covid-19. Vaksin yang dipesan negara-negara Uni Eropa adalah langkah yang akan memberi hampir setengah dari seluruh produksi global kedua perusahaan itu untuk tahun 2021.

Perebutan vaksin Covid-19 terjadi, sementara berbagai negara juga berjuang untuk menjinakkan varian virus corona yang lebih mudah menular.