UGM Akan Mendirikan Rumah Ibadah Lima Agama di Kampus?

ZONATIMES.COM — Keberanian salah satu kampus negeri terbesar di Indonesia ini untuk membangun lima rumah ibadah, menambahkan rumah ibadah umat Muslim (masjid) yang telah lama ada, merupakan gebrakan yang menarik. Meskipun sebenarnya ini bukanlah hal yang baru. UNS di Solo sebagai kampus negeri juga telah lama memiliki beberapa rumah ibadah sekaligus di dalam kampus.

UGM Berencana Membangun 5 Rumah Ibadah

Belum lama ini dalam keterangan tertulisnya, Humas Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Jumat (18/08/2023) menyebutkan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat dan Alumni Arie Sudjito mengatakan bahwa UGM akan membangun kompleks rumah ibadah untuk lima agama yaitu, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu.

Rencananya rumah ibadah lima agama tersebut akan dibangun dalam satu kawasan seluas 4.789 meter persegi.

Arie Sudjito menjelaskan kompleks pusat kerohanian untuk rumah ibadah lima agama ini bisa menjadi tempat pembelajaran bagi mahasiswa di bidang kerohanian. Selain itu juga didorong untuk mempraktikkan nilai-nilai kerukunan dan toleransi dari kemajemukan beragama di Indonesia.

Warek tersebut menyebut, “Kita percaya pusat kerohanian ini bisa menjadi tempat pembelajaran bagi mahasiswa. Keterhubungan antara praktik akademik, baik pendidikan dan pengajaran dengan praktik kerohaniaan”.

Kebijakan Yang Sesuai Jati Diri Universitas Pancasila

Sementara itu Ketua Senat Akademik Sulistiowati menambahkan, dibangunnya kompleks pusat kerohanian untuk mahasiswa ini sebagai wujud implementasi dari salah satu jati diri UGM sebagai universitas Pancasila. Dalam hal ini adanya penghargaan atas kebhinekaan dan keragaman dalam praktik beragama.
Tempat ini bisa menjadi pemersatu seluruh civitas akademika dari berbagai macam agama yang dianut, agar bisa menjunjung tinggi keberagaman. Kami sangat mendukung pusat kerohanian ini,” ungkapnya.

Inskusivitas Pendidikan

Menambahkan, Wening Udasmoro selaku Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran mengungkapkan pembangunan pusat kerohanian ini semakin menegaskan posisi kampus UGM sebagai kampus inklusif. “Kita ingin aspek inklusivitas dalam aspek pendidikan dan pengajaran bisa berjalan dan pusat kompleks kerohanian ini menjadi wadah pembelajaran sekaligus tempat mahasiswa mempraktekkan nilai-nilai toleransi dan solidaritas,” ucapnya.

Masih berasal dari sumber internal UGM, Ketua Komisi I Senat Akademik UGM Regina menuturkan lima bangunan rumah ibadah masing-masing dengan luas sekitar 300 meter persegi. Setiap rumah ibadah mampu menampung sekitar 250-300 orang. “Selain mahasiswa, rumah ibadah ini juga diperuntukan bagi dosen dan tendik untuk beribadah,” ucapnya.