oleh

Keringanan UKT 10%, Dema UIN Alauddin: Rektor Tak Peduli Mahasiswa

Minggu, 28 Jun 2020, 3: 55 pm
Aksi mahasiswa UIN Alauddin Makassar menolak SK Rektor terkait keringanan UKT (Foto: Zulfa Amani/zonatimes.com)

ZONATIMES.COM, Makassar – Lembaga Kemahasiswaan UIN Alauddin Makassar menggelar aksi kampanye sebagai bentuk penolakan SK Rektor No.491 tahun 2020 tentang Keringan UKT.

Mahasiswa tak menerima keputusan rektor pengurangan UKT 10% dan syarat yang ribet. Aksi penolakannya itu berlangsung di Jalan Sultan Alauddin, Jumat (26/6/2020) kemarin.

Bentuk simbol penolakannya, sejumlah mahasiswa membakar SK Rektor UIN Alauddin Makassar terkait keringanan UKT bagi mahasiswa yang terdampak virus Corona atau Covid-19.

Menurut Ketua Dema UIN Alauddin Makassar, Ahmad Aidil Fahri, kebijakan pemotongan UKT sebesar 10 % itu bukanlah keringanan tapi bentuk ketidakpedulian pihak kampus kepada mahasiswa.

Baca Juga  Wisudawan UINAM Periode Desember Langsung Terima Ijazah, Tapi Konsekuensinya?

“SK yang dikeluarkan oleh Rektor UIN Alauddin Makassar perlu dipertimbangkan kembali, karena tidak rasional sekali jika pengurangan UKT disituasi sekarang ini hanya 10% dan juga dengan persyaratan yang begitu sulit untuk diakses,” kata Aidil.

“10% itu bukanlah keringan tapi bentuk ketidakpedulian kampus kepada mahasiswanya apalagi selama proses perkuliahan berjalan tidak pernah sama sekali adanya pemberian paket kuota kepada mahasiswa untuk melaksanakan proses daring,” jelasnya.

Ditambahkan, Muhammad Khudri, Ketua Komisi Aspirasi Sema FEBI UIN Alauddin Makassar mengatakan bahwa SK Rektor itu sangat tidak sesuai dengan harapan mahasiswa.

Baca Juga  Aksi Bisu Tuntut UKT, Mahasiwa Sebar Flyer Rektor UIN Alauddin Tutup Mata dan Telinga

“SK Rektor tersebut sangat tidak sesuai dengan harapan para mahasiswa sebagaimana yang disuarakan pada aksi sebelumnya mahasiswa menuntut pemotongan UKT minimal 50% tanpa syarat kalaupun ada syarat mahasiswa harus dilibatkan dalam mekanisme penyusunan syarat permohonan penurunan UKT,” terang Khudri.

Khudri mengatakan aksi yang dilakukan mahasiswa banyak mendapat dukungan dari masyarakat dan menurutnya aksinya itu akan kembali dilanjutkan.

“Aksi ini wajar-wajar saja karena ini sebagai bentuk reaksioner mahasiswa yang mengalami keresahan, masyarakat pun paham karena melihat dari kondisi lapangan tadi banyak masyarakat yang sangat mendukung apalagi masyarakat yang memiliki perekonomian menengah kebawah, dan akan terus dilakukan aksi lanjutan sampai harapan mahasiswa terealisasikan,” jelasnya.

Baca Juga