oleh

Polemik Bantuan Kemenparekraf di Palopo, FPII Sulsel Nilai Media Terkesan Provokasi

Kamis, 02 Jul 2020, 4: 00 pm
Wakil Ketua Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Sulsel, Rahman Sijaya (Foto: Dok. Pribadi/zonatimes.com)

ZONATIMES.COM, Palopo – Wakil Ketua Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Sulsel, Rahman Sijaya, angkat bicara mengenai polemik bantuan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berupa bahan makanan lauk siap saji (Balasa) yang diduga tidak layak komsumsi.

Rahman menyayangkan, pemberitaan terhadap polemik bantuan tersebut terlalu dibesar-besarkan dan cenderung memprovokasi masyarakat.

“Saya memantau pemberitaan di media online, pasca Korda Balasa Sulsel memberikan klarifikasi, tiba-tiba media tersebut menggiring seolah-olah Korda Balasa keberatan atas pemberitaan, dan semakin memperkeruh suasana,” kata Rahman Sijaya, lewat keterangan tertulisnya, Kamis (2/7/2020).

Baca Juga  Prof Yusran Dilantik Besok Gantikan Iqbal Suhaeb Jadi Pj Walikota Makassar

Menurut Rahman, media semestinya memberikan ketenangan di tengah masyarakat, tidak membuat kegaduhan seakan-akan bantuan makanan itu semuanya tidak layak.

“Korda telah mengklarifikasi kejadian, Walikota sudah memberikan arahan, jika ada yang tak layak, silahkan dikembalikan dan diganti. Mestinya dipantau, apakah betul barang tersebut sudah dikembalikan dan diganti? Agar masyarakat dapat tenang,” jelasnya.

Sementara yang terjadi, lanjut Rahman, setelah Korda Balasa klarifikasi, media tersebut kembali mengangkat pemberitaan jika Korda Balasa keberatan atas pemberitaan tersebut.

Baca Juga  Sadis! Wanita Cantik Ini Diperkosa 3 Pria Hingga Tewas

“Setelah kami cek ke yang bersangkutan (Korda Balasa), beliau mengaku tak keberatan atas pemberitaan, melainkan melayangkan klarifikasi ke media tersebut lantaran pemberitaan pertama tanpa konfirmasi,” kata Rahman.

Rahman menambahkan, jangan kemudian hak jawab yang merupakan klarifikasi atas kejadian yang sesungguhnya, dijadikan alasan keberatan.

“Saat membuat pemberitaan, media tersebut tak melakukan konfirmasi atau keberimbangan berita. Saat yang bersangkutan melayangkan klarifikasi , media tersebut memberitakan keberatan. Logikanya dimana? Kalau logika provokator, bisa jadi masuk akal,” tandas Rahman.

Baca Juga