Apa Pentingnya Komunitas Literasi di Indonesia

Gambar Gravatar
Selasa, 05 Mei 2020, 2: 48 am-Opini

ZONATIMES.COM, Opini – Indonesia sebagai negara yang memiliki berbagai macam budaya, etnik maupun golongan keagamaan mampu hidup harmonis dengan semangat jaman untuk cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selain keanekaragaman budaya, suku, etnik, maupun golongan. Adapula perbedaan yang dimiliki oleh individu dalam masyarakat kita, salah satunya perbedaan minat. Minat didefisinisikan sebagai hal yang melekat dalam diri  yang bersifat pribadi sehingga dapat mendorong seseorang untuk cenderung melakukan sesuatu, terus-menerus.

Salah satu minta yang populer saat ini adalah minat baca yang dimiliki oleh individu dalam masyarakat. Meskipun data dari Central Connecticut State University (2016) menegaskan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke 60 dari 61 Negara soal minat membaca.

Secara harfiah membaca adalah kegiatan untuk berpikir sehingga dapat masuk dalam proses memahami, mengenali kemudian menafsirkan simbol-simbol yang dapat menciptakan sebuah arti.

Manfaat dari membaca selain mampu meningkatkan kecerdasan dan kualitas diri seseorang juga sebagai tahap untuk memiliki pengetahuan baru, memperkaya kosakata, menganalisa sesuatu yang akan dielaborasikan dengan bahan bacaannya, dan masih banyak lagi dampak baik yang diperoleh jika sering membaca.

Kentungan yang didapatkan dari membaca dapat dijadikan rujukan atau motivasi diri dan masyarakat pada umumnnya guna menjadikan membaca sebagai suatu aktivitas bahkan rutinitas keseharian di sela waktu kosong.

Lalu apa yang menyebabkan minat baca orang Indonesia masih rendah dan amat memprihatinkan seperti data yang telah disebutkan sebelumnya? Apakah karena karakter kita yang masa bodoh dengan ketidaktahuan?

Mungkin hal tersebutlah yang menjadi inisasi sehingga muncul banyak komunitas-komunitas yang bergerak dalam bidang literasi dengan satu tujuan meningkatkan minat baca seseorang untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Karena memang benar jika dengan membaca kita dapat mengetahui sesuatu yang sebelumnya belum di ketahui.

Slogan “Buku adalah jendela dunia” seringkali menjadi kalimat simbolis dalam setiap gerakan sosial komunitas-komunitas literasi saat ini. Padahal artikel dalam website daring juga perlu dan penting dijadikan bahan referensi yang kredibilitas informasi yang telah teruji.

Menyinggung persoalan minat, otomatis akan mengarah pada apa yang telah melekat dalam diri seseorang yang dikembangkan oleh potensi dirinya. Tujuan awal komunitas literasi memang perlu juga untuk disoroti.

Pernah suatu ketika, Saya berdiskusi dengan Kepala Perpustakaan Kampus di Makassar, beliau menyampaikan bahwa buat apa mengintervensi sebuah minat, termasuk minat membaca. Sebuah minat yang dimiliki tanpa ada dorongan dari luar pun seseorang akan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Atau ilustrasi sederhananya seperti ini, jika seseorang ditinggal dalam suatu ruangan dengan bahan bacaan (buku, koran maupun majalah) dan ia memiliki minat atau hobi membaca pasti akan membaca bahan bacaan yang berada di tempat itu, karena minatnya.

Lantas sia-sia kah gerakan para komunitas literasi yang berinisiasi mendorong agar minat baca perlu ditingkatkan oleh anak bangsa? Jawaban Saya tidak. Karena dengan gerakan semacam itu, selain mengembangkan potensi dan merawat akal sehat anak bangsa juga sebagai upaya merawat eksistensi karya seseorang. Implikasknya, para penulis juga lebih bersemangat dalam berkarya.

Saya percaya, budaya membaca masyarakat akan meningkat jika dibarengi dengan gerakan sosial para aktivis literasi di Bumi Pertiwi. Niat mereka baik, mengamalkan amanat Konstitusi Negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Karena jika minat baca dalam masyarakat dibiarkan seperti lansiran data dari Central Connecticut State University tanpa ada gerakan sosial dari para komunitas literasi maka sama saja mengamini data tersebut. Hal ini berakibat pada lahirnya generasi-generasi yang kurang memiliki pengetahuan baru ditengah terpaan modernitas jaman yang semakin mengglobal.

Jadi jika bertanya penting gak sih ada gerakan sosial berbasis literasi seperti peningkatan minat baca jawabannya cukup singkat “Penting”. Semoga para aktivis dari komunitas literasi yang masih peduli tentang dampak baik dari hal yang mereka inisiasi tidak pernah surut. Apalagi tujuannya baik, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Penolakan terhadap merajelelanya kebodohan di bumi pertiwi juga merupakan niat baik. Karena membaca ialah melawan, melawan kebodohan tentunya. Tetap semangat buat kawan-kawan komunitas literasi di seluruh penjuru negeri.

Penulis: Aslang Jaya, Pemuda Selayar/Anak Bangsa di Bumi Manusia