oleh

Corona dan Dunia yang Terbalik

Gambar Gravatar-Opini - 15 Maret 2020
Foto Prof Hamdan Juhannis

ZONATIMES.COM, Opini – Pernahkah anda bertemu dengan seseorang yang prilaku hidupnya sangat bersih? Begitu bersihnya, orang itu pasti cuci tangan setelah memegang benda asing. Saya memiliki teman dengan cara hidup seperti itu. Saya hafal betul prilaku bersihnya karena saya berteman dekat. Bukan hanya selalu cuci tangan, setiap ingin menduduki sebuah kursi, pasti memeriksa dengan sangat teliti dudukan kursi itu. Kalau ada noda atau benda aneh, dia berusaha mencari tissue atau alat perpanjangan tangan untuk mengorek apa sesungguhnya esensi dari benda hitam kecil itu.

Saat turun dari mobil dia harus memastikan injakan kakinya bebas dari benda aneh. Itulah, sebelum turun dia harus menunduk mengecek seperti apa kondisi pelataran bumi yang akan diinjaknya. Sebagai teman dekatnya saya berusaha menetralisir perilaku ‘terlalu’ bersihnya itu karena saya saja yang melihatnya menjadi tersiksa dengan prilakunya. Beragam cara saya sampaikan untuk menormalkan kebiasaannya yang ‘too much’ itu. Sampai saya pernah menyampaikan bahwa biasanya orang yang hidupnya kelewat bersih, di hari tuanya saat pikun, dia memakan kotorannya sendiri. Dia tidak bergeming.

Baca Juga  Guru dan Ruang Guru

Tipikal teman ini adalah suka menderma. Pernah suatu waktu, saat bersama di atas mobil, dia tiba-tiba membuka kaca jendela dan menjulurkan sumbangan kepada seorang tua rentah, dan tangannya tersentuh oleh tangan kakek tua itu. Lalu dia menjadi sangat tidak tenang, seakan dia membiarkan tangannya terlepas dari tubuhnya untuk menunggu sampai pada tempat cuci tangan. Saya mengkritisinya dengan canda menohok: ‘Judulnya tadi ini adalah derma yang membawa derita.’ Dia jawab: ‘Sudahlah bro, jangan bikin tambah kacau suasana hatiku.’

Beberapa hari lalu dia datang ke tempat saya karena saya panggil makan goreng sukun. Dia melihat saya setelah jabat tangan mengikuti dirinya cuci tangan. Dia berbalik pada saya sambil berucap: ‘Akhirnya saya yang benar yah kawan’. Dia lanjut jelaskan bahwa semua yang dia lakukan adalah cara teraman untuk membebaskan diri dari ancaman virus Corona.

Dari dulu dia memakai tissue saat memegang ‘handle’ pintu. Dari dulu dia cuci tangan setelah berjabat tangan dengan orang. Dari dulu dia ganti pakaian langsung saat bersenggolan dengan benda yang dianggapnya kotor. Dari dulu dia menahan memegang mukanya saat tangannya sudah tersentuh dengan benda yang tidak dia tahu sejarah kebersihannya.

Baca Juga  Akulturasi Gusdur di Tanah Papua

Saat dia menjelaskan itu, saya hanya terdiam dan tidak bisa lagi beragumentasi untuk mematahkannya karena faktanya kita jadinya mengikuti yang sudah lama dia praktekkan. Tapi sekiranya dia datang lagi, saya akan meresponnya bahwa prilaku kita ini sifatmya temporer karena pandemi virus ini. Toh, kalau sudah berakhir dan mudah-mudahan cepat berakhir, kita akan kembali kepada cara hidup sebelumnya.

Saya hanya ingin berefleksi bahwa virus Corona membawa dampak psikososial yang terlalu jauh. Wabah virus ini mencipta dunia yang terbalik. Persepsi tentang kebenaran pun menjadi terbalik minimal saat saya kaitkan dengan prilaku teman itu. Tidak pernah saya berfikir bahwa teman ini suatu saat akan benar prilakunya. Nyatanya, dia memang benar dengan situasi saat ini.

Baca Juga  Teguhkan Semangat Etos dan Problematika Pendidikan

Virus Corona telah mengguncang sendi hidup, merubah tradisi yang sudah dipatenkan. Corona membelokkan struktur fungsional masyarakat. Tradisi berkumpul jadinya dikorbankan. Peribadatan umrah di tangguhkan. Corona merubah persepsi kita tentang hakekat kebenaran. Kenisbian kebenaran persepektif manusia semakin ditancapkan oleh penyebaran virus Corona.

Semua ini menunjukkan bahwa dengan satu jenis virus yang berjangkit ini, dunia menjadi terbalik. Corona berhasil memporak-porandakan peradaban dan membaliķkan kesadaran kita tentang realitas.

Corona sejatinya menghadirkan kesadaran kehidupan yang lebih besar bukan hanya untuk perlunya suci secara lahir, tapi hidup bersih secara batin, menjauhkan diri dari kecongkakan bahwa kekuatan manusia itu sebagai pemegang peradaban tercanggih bisa saja rapuh dan pada akhirnya bobol sendiri. Dengan kata lain, ‘apalah kita ini manusia’.

Yah, semoga Carolina teman kuliah dulu di belahan dunia sana tetap baik- baik saja. Kita pun semua disini, termasuk Daeng Koro, penjual sayur yang sudah lama tidak bertemu.

Penulis: Prof Hamdan Juhannis Rektor UIN Alauddin Makassar

Baca Juga