oleh

Mengharapkan Pemimpin yang Membangkitkan

Rabu, 20 Mei 2020, 9: 23 pm
Dok. pribadi penulis Tri Sakti Wangba Astamang (zonatimes.com)

ZONATIMES.COM, Opini – Hari kebangkitan nasional yang diperingati tiap tanggal 20 Mei setiap tahunnya tak lepas dari proses sejarah peradaban manusia, khususnya bangsa Indonesia. Penulis akan memberi penjelasan pendek mengenai rentetan peristiwa dan harapan kehadiran sosok pemimpin yang membangkitkan.

Pertama, Peristiwa Ikada, 19 September 1945: Saat itu ribuan massa rakyat datang memenuhi lapangan Ikada dengan tujuan mendengarkan pidato dari pimpinan Negara Republik Indonesia yang belum genap sebulan diproklamasikan. Kehadiran massa rakyat dijaga ketat oleh tentara Jepang bersenjata yang walaupun sudah mengaku kalah dari sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 namun masih bercokol di Indonesia untuk menjaga status quo.

Kondisi saat itu memanas karena sebagian massa yang hadir adalah juga kaum pemuda yang pernah tergabung dalam gerakan militer Heiho dan PETA, dan semi militer Seinendan dan Keibodan. Mereka berkeinginan untuk secepatnya para pemimpin RI melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang dan segera membentuk kesatuan tentara nasional.

Mengetahui kondisi tersebut dan untuk menghindari pertumpahan darah yang kemungkinan lebih banyak korban di pihak rakyat, Presiden Soekarno menghadiri rapat tersebut. Presiden Soekarno menyampaikan pesan singkat agar rakyat menaruh kepercayaan kepada pemimpin mereka, dan meminta rakyat untuk bubar dengan tenang kembali ke rumah masing-masing.

Rakyat yang menghormati pemimpinnya mematuhi permintaan tersebut dan bertahap meninggalkan lapangan Ikada. Kerusuhan dan pertumpahan darah yang dikhawatirkan tidak terjadi.

Baca Juga  Larangan Aktivitas Malam di Kampus, Kreativitas Mahasiswa Dibatasi?

Kedua, Peristiwa Serangan Umum, 1 Maret 1949 : Pada pukul 6 pagi, sirene di menara pasar Beringharjo berbunyi nyaring. Biasanya setelah bunyi sirene pertanda berakhirnya jam malam, masyarakat segera memulai aktivitas rutinnya keluar rumah.

Namun hari itu berbeda karena pagi dimulai dengan suara tembakan dan ledakan dari Tentara Nasional Indonesia yang melancarkan serangan kepada instalasi vital pasukan Belanda. Dalam waktu singkat hampir seluruh sudut kota diduduki TNI, sebagian penduduk mulai mengibarkan bendera merah putih, dan rakyat menyediakan makan untuk pasukan TNI.

Serangan Umum yang dipimpin oleh Komandan Wehrkreise III (kota Jogya) Letkol Soeharto mencapai sukses karena dukungan 2000 tentaranya dan juga karena dukungan seluruh pasukan komando lain di sekitar Jogja, serta rakyat.

Kepemimpinan komandan yang selalu berada di tengah-tengah pasukan dalam kondisi apapun membuat moril pasukan tetap tinggi dan pasukan memiliki kepercayaan bahwa tiap kesulitan akan bisa diatasi bersama.

Ketiga, Organisasi Budi Utomo, 20 Mei 1908 :  Budi Utomo merupakan organisasi fomal pemuda pertama di tanah air yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kepedulian terhadap penderitaan dan pendidikan rakyat memacu tiga murid Sekolah Kedokteran Jawa (Stovia) yaitu Sutomo, Gunarwan dan Suraja untuk berbuat sesuatu terhadap rakyat.

Baca Juga  Covid-19 dan Konflik Papua yang Terlupakan

Mereka berinisiatif untuk secara mandiri menolong rakyat mereka tanpa menunggu dan menuntut pada pamong praja penerus kebijakan pemerintah Belanda yang lamban dalam bergerak.

Kemunculan Budi Utomo kemudian memompa semangat pemuda pelajar dan mahasiswa lainnya untuk berorganisasi dan memperjuangkan nasionalisme Indonesia yang ditandai dengan munculnya banyak organisasi serupa. Demikianlah sampai hari ini tanggal berdirinya organisasi Budi Utomo diperingati sebagai hari kebangkitan nasional.

Relasi Kebangkitan Nasional dan Pemilukada Serentak

Tiga kepemimpinan nasional dalam sejarah di atas semestinya direlasikan dengan momen Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) serentak tahun 2020.  Rakyat sebagai pemilik hak memilih tentunya sedang menimbang-nimbang siapa kandidat yang layak dia pilih pada momentum pemilukada nanti. Tentu tak terlepas dari harapan peradaban yang lebih baik selama 5 tahun mendatang.

Dari tiga acuan sejarah di atas dapatlah dicoba untuk melihat dari 4 aspek diantaranya, Pemimpin yang dihormati dan berwibawa ; Pemimpin dengan “People in mind”; Pemimpin yang menganut “Servant leadership”; dan pemimpin yang membangkitkan.

Pemimpin yang dihormati dan berwibawa baik secara personal, sikap, dan perbuatan sehingga menanamkan kepercayaan pada setiap diri rakyatnya. Kepercayaan membuat suara pemimpin dapat menenangkan dan mendamaikan rakyat yang dipimpinnya. Untuk menjadi pemimpin yang dihormati tentunya harus memiliki kapasitas tinggi dalam moral, pengetahuan, kepedulian pada sesama, tidak memperkaya diri sendiri dan keluarga, lurus dalam perbuatan, dan banyak kriteria baik lain yang dituntut secara moral dan etika.

Baca Juga  Perjuangan Kakanda Kita, Mari Kita Lanjutkan Mahasiswa Baru

Pemimpin dengan “People in mind” adalah pemimpin yang selalu ada di tengah-tengah rakyatnya baik secara fisik maupun pikiran di setiap kondisi baik susah maupun malang sehingga setiap keputusan yang dibuat merupakan pengejawantahan dari usaha untuk memajukan kehidupan rakyat dan usaha yang memungkinkan rakyat berkontribusi dalam pembangunan baik dalam ikut serta maupun menikmati hasil pembangunan.

Pemimpin yang bisa merasakan kesenangan dan kesusahan rakyatnya, yaitu pemimpin yang menganut paham “Servant leadership” yang memenuhi kriteria seperti pernyataan Chanakya dalam karyanya Arthashastra “Pemimpin yang menyadari bahwa dia ada di posisi pemimpin karena dia dipilih oleh rakyat, dan digaji oleh rakyat sebagai pelaksana pembangunan dan pemerintahan.”

Pemimpin yang selalu membangkitkan semangat rakyat sehingga segala gerak-gerik dan usaha yang dilakukannya dapat memberi inspirasi kepada rakyat terutama kaum mudanya untuk secara aktif dan mandiri ikut serta memikirkan lingkungannya dan bergerak aktif dan mandiri sebagai mitra pemerintah membangun lingkungannya menjadi lebih baik.

Terakhir, selamat menimbang-nimbang dan selamat memilih. Semoga terpilih pemimpin yang membangkitkan.

Penulis: Tri Sakti Wangba Astamang, pemerhati pejabat publik

Baca Juga