oleh

Berbagi Bahagia di Seperempat Senja

Gambar Gravatar-Sastra - 17 September 2019

ZONATIMES.COM Saat matahari sedang panas-panasnya, ku kendarai motor matic tua ku dengan penuh semangat. Panas matahari yang cukup terik, seakan membakar pula semangat ku untuk bertemu dengan adik-adik tercinta.

Setelah menyantap beberapa potong ayam palekko dan beberapa buras, ku bulatkan tekad ku untuk mengambil langkah awal berbagi bahagia dengan anak-anak binaan KPAYFM (KomunitasPeduliAnak Yatim dan Fakir Miskin) kota Makassar.

Lokasinya sebenarnya lumayan jauh dari tempat tinggal saya yang berada di Gowa. Namun ini tidak menyurutkan apa yang menjadi niat awal ku. Panas pun tidak menjadi penghalang untuk menuuju ke tempat abdi. Ku susuri jalan Andi Pangeran (AP) Pettarani yang terkenal dengan macetnya yang tidak masuk akal. Sampai di Pampang pun ku telusuri lorong demi lorong untuk bisa sampai di lokasi tersebut.

Jarum jam menunjukkan pukul setengah lima sore dan saya pun sampai di Lokasi. Ini sebenarnya sudah melanggar kesepakatan awal untuk berkumpul pukul empat. Ini sekaligus menjadi pelajaran pertama saya untuk bisa lebih disiplin dalam hal waktu.

Sesampainya di tempat tersebut, hal pertama yang membuat saya tersentuh yakni ketika melihat sekumpulan anak-anak sedang belajar mengaji bersama dua kakak volunteer di atas balai bambu yang sudah reok. Terbesit di pikiran saya bagaimana jadinya jika balai bambu reok tersebut rubuh. Namun sekali lagi ini adalah pelajaran berharga yang ku petik dari anak-anak binaan KPAYFM tentang keseriusan dalam menuntut ilmu tanpa memandang tempat dan kondisi.

Selain belajar di atas gubuk yang reok, gubuk itu juga dikelilingi oleh sampah-sampah plastik yang membuat tempat itu menjadi tidak enak untuk dipandang mata. Kami pun kemudian berinisiasi untuk mengumpulkan sampah-sampah tersebut lalu membakarnya, sekaligus membakar kesedihan dan kerisauan anak-anak binaan KPAYFM hingga menjadi asap lalu menjelma menjadi doa hingga sampai ke langit.

Setelah selesai membersihkan sampah, saya pun duduk beristirahat di atas padang rumput lalu mulai berkenalan dengan anak-anak. Ada yang bernama Sifa, Syira, Akram dan lain sebagainya. Setela itu saya banyak bermain dan bercanda membagi tawa dengan Sifa.

Saat tengah bercanda dengan Sifa, terlihat dari kejauhan seorang anak yang seumuran dengan Sifa menatap saya dengan pandangan yang tak biasa. Saat anak-anak yang lain tertawa bersama saya, ia hanya terdiam lalu tersenyum sedikit lalu terdiam kembali. Hal ini tentu saja menimbulkan rasa penasaran dalam diri saya. Saya pun memanggil anak tersebut. Awalnya dia malu-malu untuk mendekat dengan saya, akan tetapi setelah beberapa kali memanggil akhirnya dia pun memberanikan diri mendekati saya.

Dengan mukenah birunya yang sudah terlihat agak tua, ku pangkulah dia lalu ku tanyakan siapa namanya. Ia hanya terdiam. Berulang kali ku tanya namanya namun ia hanya terdiam lalu saya berpikir mungkin dia masih malu dengan saya karena hari ini masih pertemuan pertama saya dengannya.

Dia pun ku ajak bercanda dan tawanya yang sebelumnya ia sembunyikan, ia pun gelagakkan dengan candaan-candaan sederhana ku. Selain tertawa, mulutnya pun bergerak seperti hendak mengatakan sesuatu. Lalu tiba-tiba terdengar suara anak lain dari belakang berkata “pepe itu kak?” yang maknanya berarti dia bisu. Setelah mendengar hal itu saya pun langsung menatap matanya dan ia hanya membalas dengan senyuman. Nampaknya sedari tadi ia mau menjelaskan tentang dirinya yang bisu namun belum tersampaikan dan akhirnya tersampaikan melalui ejekan temannya.

Lalu ku tanyakan pada temannya tentang nama anak tersebut dan ternyata namanya Hesti. Hesti mungkin satu-satunya anak di KPAYFM yang berkebutuhan khusus. Dan parahnya lagi teman-teman di sekitarnya memanggilnya dengan sebutan “pepe” atau bisu, hal ini sangat sedih bagi saya karena meskipun ia tak dapat berbicara, tidak seharusnya ia dipanggil dengan sebutan pepe atau bisu.

Saya pun menegur temannya agar tidak memanggilnya dengan sebutan itu lalu tiba-tiba Hesti langsung menahan tangan saya, nampaknya ia menerima panggilan tersebut dari teman-temannya namun menurut saya itu tetap saja bukan sesuatu yang baik.

Sejak saat itu, saya terus memangku Hesti berusaha menghiburnya, memberikan keceriaan kepadanya atas segala kesedihan yang telah dialaminya belakangan ini. Menjadi manusia memang harus tahan dengan segala cobaan dan ujian dari Allah SWT. Kita sebagai manusia harus selalu percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada hambanya melewati batas kemampuannya. Dan satu-satunya cara untuk melewati ujian tersebut yaitu hadapilah dengan tabah dan ikhlas.

Banyak hal yang telah ku pelajari dari Hesti dalam  waktu yang cukup singkat ini. Perasaan untuk tidak membenci meskipun perlakuan orang lain terhadap diri kita itu cukup kelewatan. Dia adalah satu-satunya anak kecil di bawah 10 tahun yang mampu memberikan pelajaran yang sangat berharga.

Sore pun perlahan menghilang dan saya masih tetap bercanda dan menghiburnya. Meskipun ia tak dapat berbicara tapi ia bisa mendengar dan mengerti apa yang saya ucapkan. Saya pun berusaha memberikan pemahaman kepadanya bahwa seburuk atau sekelam apaupun masa lalu kita, masa depan kita tetap suci dan penuh dengan pengharapan.

Hari ini sangat puas rasanya bisa berbagi tawa dan bahagia dengan anak-anak KPAYFM di seperempat senja. Selain memanen tawa bersama-sama, kami pun melakukan Barter yaitu saya memberikan mereka tawa dan kebahgiaan sedangkan mereka memberikan saya pelajaran yang tak ternilai harganya.

Senja menghilang dan malam pun tiba, sekarang saatnya saya meninggalkan tempat yang sangat luar biasa tersebut. Setelah dari tempat tersebut saya kembali menanamkan dalam diri saya untuk selalu berbagi terhadap sesama karena bebrbagi adalah hal sederhana namun tidak semua orang mampu melakukannya dan bukan seberapa sering kita tertawa tapi seberapa mampu kita membagi tawa. (*)

*Penulis: Andrian Rustamar, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Makassar.

Komentar